Friday, January 14, 2011

Bab 2 - part 1

Alice dan Sharon memberikan koper mereka pada guru pembimbing mereka agar bisa dimasukan ke dalam bagasi pesawat. Mereka lalu berjalan-jalan di dalam Changi airport. Changi airport adalah airport terbaik di Asia tenggara, sekaligus sala satu airport terbaik dunia. Sharon mengajak Alice untuk menemaninya membeli parfum. Awalnya ia malas, tapi daripada ia menunggu sendirian, lebih baik ia ikut saja dengan Sharon. Sharon masuk ke sebuah toko parfum. Disitu terdapat parfum-parfum dari berbagai brand ternama.
Sharon sibuk melihat-lihat sedangkan Alice sibuk memainkan handphonenya. Tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita yang sedang melihat-lihat.
“Sorry, miss.”
“No problem.” 
Wanita itu menahan tawanya. Alice melihat ke cermin. Tidak ada yang salah dengan dirinya, lalu mengapa wanita itu tertawa.
“Ehm..Why are you laughing?”
“I’m not a miss anymore, I’m married.
“I’m sorry. I don’t know, really. I think you haven't married because you still look young and beautiful.
“No it’s not your fault, young lady. For me it's a compliment. Thanks.”
Wanita itu berlalu dari hadapan Alice. Wanita itu kelihatan masih muda. Seandainya ia punya anak, Alice yakin anak wanita itu pasti masih kecil tak mungkin seumurannya. Ia lalu berjalan ke arah Sharon yang sedang membayar di kasir.

***

Ellen berjalan ke ruang tunggu di airport. Anak-anaknya sedang memainkan komputer yang disediakan pihak airport. Suaminya masih saja sibuk dengan urusan kantornya. Ia ingat terakhir kali suaminya bersikap hangat kepadanya adalah saat ia mengandung Romeo. Setelah itu suaminya kembali bersikap dingin kepadanya. Entah mengapa dulu ia bisa jatuh cinta pada pria seperti itu, padahal jelas-jelas suaminya itu tidak mencintainya melaikan wanita lain yang dulu meninggalkannya karena dijodohkan. Ellen menghampiri suaminya itu dan memulai pembicaraan. Ia berharap suaminya itu akan menanggapinya dengan baik.
“Pa, sibuk gag?”
“Gag, len. Ada apa?”
“Aku mau tanya soal rumah baru kita di Jakarta. Kita tinggal di daerah mana, pa?”
“Di daerah Jakarta Utara, kenapa memangnya?”
“Nanti aku mau main ke rumah mama-ku. Boleh kan?”
“Buat apa?”
“Loh, memangnya gag boleh seorang anak mengunjungi ibunya sendiri?”
“Kamu lupa terakhir kali kita kesana, kamu diusir, dihina, bahkan dicacimaki sama dia? Wanita sombong itu mana mau menerima kamu di rumahnya.”
“Tapi itu kan kejadian enam belas tahun lalu, pa. mungkin saja mama sudah berubah.”
“Ya tersersah kamu lah.” 
Robby diam. Ia tidak mau tau lagi soal mertuanya itu. Ia yang menikahi anaknya hanya karena kasihan jadi bahan hinaan mertuanya karena tidak punya apa-apa saat itu. Ia pun bekerja keras untuk membuktikan kalau ia mampu menghidupi keluarganya sampai akhirnya ia bisa hidup layak seperti sekarang. Alvin berjalan ke arah mereka berdua.

“Pa, ma, aku jalan-jalan sebentar ya.” Ia pun berjalan keluar dari ruang tunggu itu.

***

Seperti biasa, Sharon sibuk merapikan dandanannya di depan cermin toilet wanita itu. Alice mendengarkan lagu lewat headset. Ia bosan menunggu Sharon yang masih asik dengan peralatan make-up nya. Ia lalu keluar duluan dari toilet. Tiba-tiba ada yang menutup matanya dari belakang. Ia mencoba menyingkarkan tangan itu. Ia lalu menyikut orang di belakangnya itu hingga kesakitan, kemudian berbalik.
“Auuh.."
“Alvin?”
 Tanpa sadar ia langsung memeluk Alvin yang sedang kesakitan. Alvin hanya tersenyum. Ia senang bisa bertemu Alice lagi . Tapi belum sempat ia membalas pelukan itu, Alice tiba-tiba menyadari kalau mereka ada di tempat umum. Ia lalu melepaskan pelukannya.
“Sorry. Tadi aku pikir siapa. Jadi aku sikut deh.”
“Makanya jangan asal sikut lagi, sakit tau.”
“Maaf banget ya, vin. Ehm.. Aku balik dulu ya.”
Alice berjalan ke ruang tunggunya. Alvin bingung kenapa Alice tiba-tiba berubah seperti itu. Apa karena perkataannya? Ia lalu berlari dan menggenggam tangan Alice.

“Kamu kenapa? Kok tiba-tiba jadi diam kayak gini?”
“Aku malu.”
“Malu kenapa?”
“Habis tadi aku meluk kamu di depan umum. Padahal kan kamu bukan siapa-siapa aku.”
“Siapa bilang kamu bukan siapa-siapa aku? Untuk aku, kamu itu best friend aku. Artinya kamu gag nganggep aku best friend kamu ”
“Gag lah, you’re my best friend.”
“So my adorable best friend, let me take you to the waiting room.”
Alice menjulurkan tangannya. Alvin lalu menggenggam tangan Alice dengan lembut. Mereka berjalan masuk ke ruang tunggu. Ternyata ruang tunggu mereka sama. Mereka lalu duduk di sebuah bangku panjang. Romeo melihat mereka, lalu berlari ke arah kakaknya yang sedang mengobrol dengan perempuan yang tidak dikenalnya.
“Kakak Alvin.”
“Romeo, kok disini?”
“Ayo main!”
“Tunggu ya.” 
Romeo mengangguk. Vita datang. Ia mencoba membujuk Romeo untuk kembali ke tempat orangtua nya tapi Romeo tidak mau. Lalu Alvin menyuruh Vita untuk kembali karena Alvin yang akan menjaga Romeo.
“Adik kamu, Vin?”
“Iya. Namanya Romeo. Romeo, ini kakak Alice. Say hi dong.”
“Halo, kakak Alice.”
“Halo, Romeo. Ganteng deh.”
Romeo tersenyum malu. Romeo kelihatan senang bermain dengan Alice. Alvin senang. Alice memang berbeda dengan cewek-cewek lainya. Romeo jarang bisa dekat dengan teman-teman ceweknya di California. Mereka memang tidak begitu menyukai anak kecil, berbeda dengan Alice. Jauh berbeda. Alice memang gadis yang baik.
“Kakak Alvin kok bengong”
“Gag bengong kok. Kakak Cuma senang aja ngeliat Romeo main sama kakak Alice.”
 Alice mengelus kepala Romeo. Lalu mereka mendengar pengumuman kalau pesawat yang akan ditumpangi Alice akan segera berangkat.
“Romeo ganteng, kakak Alice pergi dulu ya, pesawatnya sudah mau berangkat soalnya. Vin, aku jalan dulu ya. Nih nomor telfon ku. Nanti kabarin ya kalau sudah di Jakarta.”
“Okey-dokey.”
Alvin dan Romeo melambaikan tangan mereka ke arah Alice. Alice lalu bergabung dengan rombongannya dan masuk ke pesawat.

***

Setengah jam berlalu setelah Alice pergi. Alvin dan keluarganya pun masuk ke pesawat yang akan mereka tumpangi. Sejak tadi Romeo selalu bertanya tentang Alice. Ia menanyakan apakah Alice pacar Alvin? Apakah Alvin menyukai Alice? Apakah Alvin akan bertemu lagi nanti dengan Alice? dan banyak lagi. Setelah lelah bertanya, Romeo mengarahkan matanya ke jendela untuk melihat awan-awan yang menghiasi jendela pesawat. Alvin tertidur di bangku pesawat. Ia lalu terbangun setelah satu jam tidur karena Pesawat akan segera mendarat.
Setelah pesawat mendarat, Ia membantu orangtuanya mengambil koper-koper mereka. Barang-barang mereka dari rumah di California sudah dikirim ke rumah baru mereka terlebih dahulu. Setelah mengambil semua koper, Robby menelfon supirnya, Aryo untuk menjemput mereka di lobi bandara Soekarno-Hatta. Aryo langsung menghidupkan mesin mobil Alphard itu dan menjemput keluarga majikannya di lobi bandara. Ia belum pernah bertemu keluarga tuannya sebelumnya. Ia penasaran apakah anak-anak dan istri tuannya itu sama dingin dan galaknya dengan tuannya itu. Tak lama kemudian ia tiba di depan tempat tuannya menunggu. Ia keluar dari mobil dan membantu tuannya memasukan kopernya ke bagasi mobil. Ternyata anak-anak tuannya sangat ramah. Nyonyannya juga. Ia lalu membukakan pintu mobil untuk majikan barunya.
“Sudah lama nunggu, Yo?”
“Lumayan, Pak.”
“Oh ya, kenalkan ini istri saya, Ellen. Anak saya yang besar, Alvin dan yang kecil, Romeo. Nanti rekan kerja kamu di rumah adalah babysitternya Romeo, Vita dan pembantu yang sudah saya pesan dari agen minggu lalu. Apa dia sudah datang?”
“Kemarin sudah datang, Pak..”
“Oh. Baguslah kalau begitu.”
“Sekarang tujuan kita kemana, Pak? Mau makan dulu atu langsung pulang?”
“Langsung pulang saja.”
“Baik, Pak.”
Alvin yang duduk sendirian di kursi barisan belakang, sibuk mendengarkan musik. Ia tidak sabar untuk mulai beraktivitas di Jakarta. Ia meminta Aryo untuk berhenti di sebuah toko pulsa untuk membeli kartu perdana.
***
Alice masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang terletak di kawasan elit Jakarta itu terlihat sepi. Yang tinggal di rumah itu bukan hanya Alice, kakak laki-lakinya, dan orangtuanya saja, tapi ada tiga orang pembantu, dua orang supir, dan dua orang satpam juga. Tapi tetap saja rumah itu sepi.
Orangtuanya jarang pulang ke rumah itu. Mereka biasa menginap di kantor mereka masing-masing. Alena, kakak perempuan Alice sudah menikah dan pindah ke New York mengikuti suaminya. Alden yang sibuk dengan tim basketnya, sering pulang malam. Karena itu, jika kesepian di rumah, Alice biasa mengobrol bersama para pembantu. Namun ia paling dekat dengan mbok Iyem atau yang biasa ia panggil mbok Yem. Wanita setengah baya itu sudah bekerja di rumahnya sejak ia berumur tiga tahun.
Alice menaiki anak tangga rumahnya. Orang tuanya sepertinya tidak ada di rumah. Ia melewati lorong menuju kamarnya. Dari kamar Alden terdengar bunyi petikan gitar dan suara seorang wanita menyanyi. Itu pasti Meilisa. Pacar baru Alden yang bergabung dalam kelompok paduan suara di sekolahnya. Suaranya memang indah, tapi ia tidak pernah berani menunjukannya di depan banyak orang. Alice melanjutkan perjalanannya menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar yang bertuliskan namanya dan masuk ke dalam. Alice menaruh kopernya di samping lemari pakaiannya dan berbaring di tempat tidurnya. Mbok Yem sepertinya sudah merapikan kamarnya, karena kamar itu sekarang sudah lebih rapih di bandingkan ketika ia tinggalkan. Alice melihat handphonenya. Ada sms yang masuk. Ia membaca sms itu.

Hi, aku sudah di Jakarta. Besok kita ketemuan di café Dailycious yang pernah kamu ceritain ke aku. Jam 4 sore. Jangan telat !

Alvin

Alice melompat kegirangan. Ia sendiri bingung mengapa ia begitu senang mendapat sms dari Alvin, tapi apapun alasannya ia tau kalau ia akan segera bertemu dengan Alvin.

***
Alvin tiba di rumah barunya. Ia masuk ke dalam rumah itu, membawa koper-koper berisi barang-barang yang dibawanya dari California. Ayahnya menunjukan kamarnya. Kamar bernuansa biru itu dua kali lebih besar dari kamarnya di California dulu. Kamar itu juga dilengkapi dengan kamar mandi di dalamnya. Jendela kamar itu ia menghadap ke arah kolam berenang. Benar-benar kamar yang ia inginkan.
Ia lalu keluar dari kamar itu untuk melihat kamar lain nya. Pertama-tama ia melihat kamar Romeo. Kamar Romeo bernuansa hijau dan terdapat walpaper pembatas bergambar beruang. Romeo sibuk memainkan mainan baru yang ia dapatkan. Alvin lalu keluar dan berjalan ke arah kamar orangtuanya. Tapi sebelum sampai ke kamar orangtuanya, ia melihat sebuah piano. Ia lalu berhenti dan mencoba memainkan piano itu. Alvin memang bisa bermain piano, tapi ia tidak sepintar ibunya. Ibunya dulu adalah seorang pianis berbakat yang meninggalkan karirnya itu demi suaminya. Ia lalu melanjutkan perjalanannya ke kamar ibunya.
Di dalam kamar, Ellen sedang sibuk memasukan baju-bajunya kedalam lemari pakaian barunya. Ia menata gaun-gaunnya di dalam lemari itu. Ia ingat terkhir kali mengenakan gaun-gaun itu adalah ketika ia masih belum menikah dengan suaminya. Gaun-gaun itu hanyalah koleksinya karena kini baju-baju itu sudah tidak muat lagi untuknya. Badannya sudah tidak selangsing dulu. Meskipun begitu, kalau dibandingkan dengan teman-teman sebayanya, tak ada yang penampilannya masih sebagus dia. Karena meskipun berstatus ibu rumah tangga, Ellen masih sering memperhatikan fashion yang sedang in dan pergi ke gym untuk melatih tubuhnya. Sayang ia tak punya anak perempuan, jika punya maka akan ia berikan semua koleksi gaun-gaun indah itu. Ia lalu tersadar dari lamunannya ketika Alvin masuk ke kamar itu.
“Mama.”
“Kenapa, sayang?”
“Gag apa-apa. Aku cuma liat-liat kamar di rumah ini. Oh ya ma, gimana sama sekolahku?”
“Terserah kamu saja. Kamu maunya dimana?”
“Di sekolah SMA Prestasi Bangsa.”
Ellen terdiam. Ia mengingat akan janjinya dengan sahabatnya sewaktu SMA, Karina. Ia dan Karina berjanji untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah itu. Sekolah tempat mereka pertama kali bertemu. Sebenarnya mereka bermaksud untuk menjodohkan anak mereka. Tapi ia tidak yakin kalau Karina akan menepati janjinya itu. Karena terakhir bertemu, Karina mengatakan kalau suaminya akan dipindah kerjakan ke Singapura.
“Kamu tau dari mana tentang sekolah itu?”
“Aku punya teman disana.”
“Teman yang mana?”
“Yang kemarin bertemu di Singapura. Jadi, mama setuju gag?”
“Mama akan bahas dulu dengan papa. Nanti malam mama akan kasih tau keputusannya.”
Ellen kembali menyibukan dirinya dengan menyusun pakaian-pakaiannya yang lain. Alvin lalu keluar dari kamar itu

Bab 1 - part 3

Alvin turun dari bus. Ia baru saja mengantarkan Alice ke hotel tempatnya menginap. Alice mengenalkannya pada Sharon. Sharon kelihatan malu-malu di depannya. Lalu ketika ia berjalan pergi, ia sempat mendengar kalau Sharon dan Alice membicarakan dirinya.
“Gila! Alvin ganteng banget! Sampe starstruck gue! Lu suka gag sama dia?”
“Gag tau..”
“Kalau lu gag mau, buat gue ya!”
“Enak aja! Gag boleh!”
“Cie..Alice cemburu!”
“Apa sih Sharon!”
Hanya itu saja yang ia dengar, tapi ia bisa menyimpulkan kalau perasaannya pada Alice tidak bertepuk sebelah tangan.

Ia masuk ke dalam hotel tempatnya menginap. Keluarganya sudah menunggunya di lobby hotel. Papa dan mamanya sibuk mengobrol, sedangkan adiknya, Romeo sedang disuapi oleh susternya. Ia bergabung dengan mereka.
“Kamu habis dari mana, Vin? Kenapa mama telfon gag di angkat?”
“Sorry, mom. I didn’t hear it. I was busy in Universal when you're calling ”
“You’ve been to Universal Studio?“
“Yup, with a friend.”
“Friend? i don't know if you have a friend in Singapore.”
“Baru ketemu tadi kok.”
“Alright, Shall we go now?” 
Robby sepertinya sudah bosan mendengar percakapan anak dan isrtrinya itu. Elen mengambil tasnya dan memberikan isyarat pada Vita, suster Romeo untuk segera mengikuti suaminya ke mobil. Alvin sudah berjalan di depan bersama Robby. Mereka hampir tiba di mobil.
“Itu mobil siapa, pa?”
“Mobil kantor. Oh ya, kamu sudah tau mau masuk sekolah mana di Jakarta?”
“Belum pasti sih, pa. Nanti aku akan kasih tau kalau sudah pasti. Anyway, kita nanti tinggal dimana, pa?”
“Papa sudah beli rumah untuk kita sekeluarga disana.”
Mereka sudah tiba di mobil. Robby dan Alvin masuk ke dalam mobil. Elen, Romeo, dan susternya yang tadi masih di belakang kini sudah sampai dan masuk ke dalam mobil. Robby menyalakan mesin mobil dan menyetir keluar dari tempat parkir hotel. Alvin melihat keluar jendela mobil. Ia melihat rombongan remaja yang berjalan kearah tempat pertunjukan “Songs of the Sea”. Ia berharap Alice ada diantara mereka agar ia bisa melihat wajahnya sebelum berpisah untuk waktu yang ia sendiri tidak dapat tentukan.


***

Alice dan Sharon berjalan bersama rombongan mereka ke wahana pertunjukan “Songs of the Sea”. Revon dan Jason lalu menghampiri mereka. Jason memberikan tanda pada Sharon agar ikut bersamanya dan membiarkan Revon dan Sharon berdua.
“Lis, gue mau ke toilet bentar, ya. “
“Gue nganterin Sharon dulu, ya.”
Jason pun mengikuti Sharon yang sudah berjalan lebih dulu. Revon yang awalnya hanya diam akhirnya memulai pembicaraan.
“Lis, gimana hari ini? Main apa aja di Universal?”
“Gue have fun banget tadi. Gue paling suka main yang Revenge of the Mummy. Lu gimana?”
“Sama dong. Oh ya, tadi lu balik jam berapa?”
“Sekitar jam 5.”
“Kenapa gag sampai jam 6 aja?”
“Kasihan Sharon sendirian di hotel. Jadi Alvin nganterin gue pulang walaupun dia masih mau lebih lama disana. Dia baik banget ya. ”
Revon diam. Kenapa Alice harus membahas tentang Alvin lagi? Apakah Alice tidak menyadari kalau ia cemburu? Alvin membuatnya semakin sulit mendapatkan Alice.
“Revon ! Kenapa diam?”
“Gag apa-apa kok. Gue ke tempatnya Bobby dulu ya.”
“Okey.”
Alice duduk di bangku penonton. Tak lama kemudian Sharon menghampirinya dan duduk di sampingnya. Mereka menyaksikan pertunjukan itu. Alice terpesona melihat kecanggihan teknologi itu. Gambar-gambar yang bermunculan di sebuah air mancur. Andai saja ia bersama Alvin sekarang, pasti Alvin bisa menjelaskan padanya. Alvin memang keliahatan cuek dan slengean, tapi ia pintar dan pengetahuannya luas. Itulah mengapa Alice lebih menyukainya daripada cowok seumurannya yang lebih suka bermain dan pengetahuannya hanya seputar game.
Akhirnya pertunjukan selesai. Ia berjalan kembali ke Hotel, masuk ke kamar, lalu bersiap untuk tidur. Ia berbaring di ranjang . Sharon keluar dari kamar mandi dengan masker di wajahnya.
“Sharon, sharon, lagi liburan kayak gini aja masih maskeran.”
“Alice, alice, Maskeran itu penting tau bisa menyegarkan, memperbaiki, mengencangkan kulit wajah, melancarkan peredaran darah, merangsang kembali kegiatan sel-sel kulit mengangkat sel kulit mati, melembutkan kulit, dan memberi asupan nutrisi pada kulit kita.”
“Giliran gitu aja lu afal, pelajaran juga dong.”
“Iih, tau deh yang pinter.”
“Apa kata lu aja deh. Gue mau tidur.”
Alice memasukan dirinya ke dalam selimut. Sharon duduk di depan meja rias . Ia melepaskan maskernya dan mengunakan krim malam. Ia memang berbeda dengan Alice. Alice jarang berdandan dan gayanya casual, sedangkan ia senang berdandan dan berpenampilan girly. Sangat berbeda. Tapi itulah yang membuat mereka bisa berteman baik.
Alice mengintip keluar dari selimut. Sharon masih sibuk di meja rias. Alice mengingat kembali pengalamanya hari ini. Ia baru ingat kalalu ia lupa meminta nomor telfon Alvin. Ia takut tidak dapat bertemu lagi dengan Alvin. Karena itu, Ia berdoa agar ia dan Alvin dapat bertemu kembali.
***

Alvin masuk ke hotel tempatnya menginap di Singapura. Ayahnya sudah beberapa hari tinggal di suit room hotel itu. Lusa ia akan berangkat ke Jakarta dan memulai hidup baru disana. Papanya sedang bekerja di depan laptopnya sedang mama dan adiknya sudah tidur. Ia keluar dari kamarnya dan berjalan ke dapur untuk mencari minuman segar. Ia belum tau, apa yang akan ia lakukan besok. Ia lalu masuk ke dalam kamar dan tidur.
“Kakak Alvin, Kakak Alvin bangun !!” 
Alvin terbangun. Romeo berdiri di samping tempat tidurnya. Adiknya yang baru berumur lima tahun itu memang sudah bisa bicara walau kata-katanya belum banyak. Ia sangat menyayangi adiknya itu
“Iya, kakak bangun. Kenapa Romeo?”
“Ayo berenang!”
“Males ah. Kita main komputer aja ya.”
Romeo memasang tampang cemberut lalu melipat tangannya dan menggeleng. Kalau sudah seperti ini mau tidak mau Alvin harus menemaninya.Ia lalu mengambil celanan renangnya dan turun ke lantai dasar bersama Romeo dan susternya. Mereka berjalan ke arah kolam berenang.
Kolam berenang itu besar dan ramai. Romeo meminta susternya untuk membukakan bajunya. Ia lalu melompat dan berenang dengan ban tangannya. Susternya menjaganya dari sisi kolam berenang. Alvin pun tak mau kalah dengan adiknya. Ia segera masuk ke kolam setelah mengenakan celana renangnya. Ia tak sabar untuk berangkat ke Jakarta besok, karena itu artinya ia akan segera bertemu dengan Alice.

Bab 1 - part 2

Alice dan Alvin memasuki Sentosa Express. Mereka segera mencari tempat duduk. Karena hari kerja, kereta itu tidak
seramai biasanya. Kereta itu bergerak sangat cepat dari stasiun ke stasiun.
Akhirnya mereka tiba di stasiun Waterfront, dekat Universal Studio. Sementara Alice mengambil tiket masuk dari guru pembimbingnya, Alvin pergi mebeli tiket untuk dirinya sendiri. Revon pun menghampiri Alvin.
“Hey, bro”
“Hey, do I know you?”
“No, I just wanna warn you not to approach Alice again.”
“Alice? Kamu temannya Alice?”
“Iya, tapi dia itu..”
Sebelum Revon sempat melanjutkan kalimatnya, Alice sudah berada di samping Alvin.
“Hai, Rev. Kenapa lu ada disini? Rombongan yang lain sudah masuk ke dalam loh! ”
“Gag kenapa-kenapa kok, Lis. Gue duluan ya, Lis.”
Revon langsung berlari kearah pintu masuk. Alice mengajak Alvin untuk masuk ke dalam Universal Studio. Namun, Alvin mengajak Alice untuk berfoto terlebih dahulu di depan Universal Globe. Alice baru tahu kalau Alvin berbakat di bidang fotografi dan Ia juga bercita-cita menjadi seorang sutradara hebat. Alice semakin mengaggumi teman barunya itu.

***
Alice mengantri untuk berfoto bersama Shrek, karakter kartun yang ia sukai. Alvin tersenyum melihat gaya Alice. Ia tak pernah bertemu teman wanita seperti Alice. Alice begitu polos, bahkan ia tidak bertanya apapun tentang apa yang Revon lakukan dengannya tadi. Sebenarnya tanpa Revon lanjutkan, Alvin sudah tau kalau Revon akan mengatakan kalau ia menyukai Alice. Entah mengapa, tapi ia tidak rela menjauh dari Alice demi Revon. Ia berharap waktu berjalan lambat agar ia bisa lebih lama bersama Alice.
“Vin!Alvin! Kok bengong sih?”
“Hah? Oh, maaf. Tadi aku lagi mikirin setelah ini kita mau main apa. Menurut kamu apa?
“Gimana kalau kita masuk ke kastilnya Shrek?”
“Kamu mau nonton Shrek 4D?”
“Iya. Kamu mau kan?”
“Mau dong”
Alice tersenyum. Ia menarik tangan Alvin menuju antrian masuk ke dalam area Shrek 4D untuk mengantri. Karena antrian itu panjang, mereka menunggu sambil mengobrol. Alice menceritakan tentang perlakuan teman-teman sekolahnya kepadanya. Alvin tidak menyangka Alice yang ceria, pernah mengalami hal seburuk itu.
“I’m so proud of you, Lis.”
“Bangga kenapa?”
“Kamu hebat, bisa bertahan sampai lulus walaupun di perlakukan kayak gitu. Aku rasa aku bakal pindah sekolah
kalau jadi kamu.”
“Ngapain pindah sekolah? Rugi lagi! Aku gag mau buang duit untuk pindah sekolah karena mereka.”
“Iya juga ya? Oh ya, Kamu sekolah dimana nanti?”
“Rencananya sih, aku masuk ke SMA Prestasi Bangsa. Kalu kamu, di Jakarta sekolah dimana?”
“Aku belum tau.”
Akhirnya tiba giliran mereka. Mereka masuk ke sebuah ruangan gelap. Ruangan itu sudah di penuhi banyak orang yang sedang berdiri menonton pengantar film itu. Akhirnya pintu Bioskop Shrek 4D adventure di buka. Orang-orang berdesakan masuk.
“Aaa..” Alice hampir terjatuh. Ia merasakan dirinya di topang oleh dua buah tangan. Itu adalah tangan Revon.
“Kamu gag kenapa-kenapa kan, Lis?”
“Iya. Thanks ya, Rev.”
“Sama-sama. Vin, Lu kan cowok, harusnya lu bisa jagain Alice. Untung gue lihat, jadi masih sempat di tolong.”
Revon menatap Alvin dengan sinis. Ia ingin menunjukan kepada Alice kalau ia lebih hebat dari Alvin. Alvin tau maksud perkataan Revon. Tapi itu memang kesalahanya jadi ia mencoba untuk santai.
“Sip, Rev. Gue akan jaga dia sebaik mungkin. Kita masuk dulu ya.” 
Alvin menarik tangan Alice. Alice melambaikan tangannya ke arah Revon. Revon merasa Alvin sengaja berkata seperti itu di depan Alice. Revon semakin tidak menyukai Alvin. Ia lalu masuk ke dalam bioskop itu. Alvin dan Alice duduk di bangku penonton. Mereka sudah menggunakan kacamata yang sudah disediakan. Film di mulai.

***
Film selesai. Alvin dan Alice keluar dari tempat itu. Alvin dan Alice berjalan mengitari wahana Far far away, tempat mereka menonton sebelumnya. Pertama-tama, mereka menonton pertunjukan Donkey live, lalu berpindah ke wahana the Lost World untuk menonton pertunjukan Water world. Puas menonton pertujukan, mereka pun mulai bermain. Mereka
memainkan beberapa permainan seperti Canopy flyer, Roller Coaster, Revenge of the Mummy, dan Treasure Hunter. Mereka lalu berjalan ke arah Jurassic Park Rapids Adventure .Mereka masuk ke salah satu arena permainan. Permainan itu seperti arung jeram namun arenanya di buat seperti pada zaman dinosaurus. Awalnya, arus air nya tidak begitu kencang tapi lama kelamaan, arus air semakin kencang. Perahu mereka lalu masuk ke dalam suatu terowongan yg di tata seperti gudang. Tiba-tiba, perahu mereka seperti menabrak sesuatu dan kemudian terangkat ke atas. Di atas mereka, ada sebuah robot dinosaurus yang bersiap menyantap mereka. Tapi sebelum itu terjadi, perahu mereka meluncur dan mereka terkena cipratan air beberapa kali sehingga baju mereka basah.
“Shit!”
“Hush! Ngomongnya ya.”
“Sorry.”
Perahu mereka sampai di tempat awal mereka berangkat tadi. Mereka turun dari perahu itu dan berjalan keluar. Alvin mengajak Alice masuk ke sebuah toko souvenir.
“Kita mau ngapain, Vin?”
“Beli baju. Baju kita itu basah banget. Nanti kalau kamu sakit gimana?”
“Tapi..”
“Gag pakai tapi-tapi. Pilih aja yang kamu suka, aku yang bayar.”
Alvin menunjukan bagian pakaian perempuan. Setelah Alice sibuk melihat-lihat, ia mencari baju untuk dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Ia menemukan baju yang tepat. Baju itu bertuliskan “Best Actor”. Lalu Alice menghampirinya.
“Vin, aku sudah dapat bajunya. Liat deh.”
“Aku juga. Ini..” Alvin lalu berbalik. Ia tersenyum. Baju yang Alice pilih ternyata bertuliskan “Best Actress”. Sebuah kebetulan lainya. Alice hanya ikut tersenyum melihat kebetulan
itu. Mereka berdua berjalan ke arah kasir. Alvin membayar kedua baju itu. Mereka lalu berjalan keluar dari toko itu dan mencari toilet utnuk mengganti pakaian.

***
Alvin dan Alice sudah mengganti pakaian mereka. Alvin mengajak Alice ke sebuah restaurant fast food d tempat itu. Mereka lalu memesan makanan. Tempat pemesanan makanannya ada di luar, jadi Alvin menyuruh Alice untuk mencari tempat duduk di dalam. Baru selesai memesan makanan, tiba-tiba hujan turun. Alvin yang memegang nampan berisi makanan langsung menutupi makanan itu agar tidak basah dan berlari ke arah Alice yang sedang mencari tempat duduk.
"Vin, kayaknya gag ada tempat duduk lagi deh."
"Itu masih ada satu, kamu duduk aja biar aku yang berdiri."
"Gag usah kamu aja yang duduk."
"Kan aku cowok, jadi biar aku yang berdiri, kamu duduk."
Alice lalu mendekati tempat duduk itu. Ketika akan duduk, Alice melihat seorang anak kecil yang sedang disuapi makanan oleh ibunya yang sedang berdiri karena kehabisan tempat duduk. Alice lalu memberikan tempat duduknya pada wanita itu. Alvin hanya terpaku melihat kejadian itu.
"Loh, kenapa kamu kasih kursi kamu ke wanita itu?"
"Habis wanita itu kan kasihan mesti nunduk untuk menyuapi anaknya. Jadi ya aku kasih aja, jadi kan kita bisa makan bareng kayak gini."
"Kamu memang cewek yang baik ya, lis."
"Enggak kok, biasa aja. Vin, maaf ya kalau aku ngerepotin.”  
“Gag kok, gag sama sekali malah.”
“Kenapa begitu?”
“Karena aku senang hari ini bisa ketemu kamu.”
“Aku juga. Aku bersyukur banget bisa ketemu kamu hari ini.”
Alvin tersenyum. Mukanya memerah. Entah kenapa, ia merasa begitu bahagia mendengar ucapan Alice. Alice juga merasakan hal yang sama. Ia begitu berbunga-bunga mendengar ucapan Alvin dan tanpa sadar mengatakan perasaannya. Tapi keheningan itu buyar ketika handphone Alice berbunyi. Alice mengangkat telefon itu.
“Alice! Lu dimana? Kok gag bareng Revon pulangnya? Gue bosen banget nih di hotel.”
“Gue masih di Universal, Shar. Sebentar lagi gue pulang kok.”
“Cepetan ya !”
“Sip, Bos!”
Alice mengakhiri pembicaraannya dengan Sharon. Ia lalu mulai memakan makanannya. Alvin masih memperhatikan Alice. Ia ingin secepat ini berpisah dengan Alice.
“Kamu sudah mau pulang ya?”  
“Iya nih. Kasiahan Sharon gag ada teman di hotel.”
“Kamu pulang bareng teman-teman sekolah kamu?”
“Gag. Mereka kayaknya sudah balik ke hotel duluan.”
“Kalau gitu, biar nanti aku yang nganter kamu sampai ke hotel.”
“Gag usah. Aku gag mau ngerepotin kamu. Hotelnya kan gag jauh.”
“Hotel-ku juga gag jauh. So? Why don’t we spend more time together before we back? Gag ada salahnya kan?"  
“Ehm..Okey deh.” 
Mereka menghabiskan makanan mereka dan berjalan ke arah pintu keluar. Alvin melihat ke broshur Universal Studio. Ada satu pertunjukan yang ingin ia lihat sebelum pulang, Studio Steven Spielberg. Seperti tau apa yang di inginkan Alvin, Alice menarik tangan Alvin.
“Vin, kamu mau jadi sutradara kan? Kamu mesti lihat studionya Steven Spielberg!”
“Sebenarnya aku pengen, tapi bukannya kamu harus cepat-cepat balik ke hotel?”
“So? There’s nothing wrong if we spend more time together before we back, right?”
Alvin tersenyum lalu menarik tangan Alice dan berlari. Alice ikut berlari. Ternyata Alvin hampir saja mengorbankan keinginanya demi dia.

***
Alvin dan Alice keluar dari tempat pertunjukan. Alvin masih terus membahas tentang apa yang ia lihat tadi, bagaimana sebuah film yang harusnya di buat di luar ruangan bisa di buat di dalam sebuah studio. Dan yang lebih mengagumkan, itu terlihat begitu nyata.
Mereka berjalan ke arah pintu keluar. Setelah Alvin berjalan melewati pintu keluar, ia berbalik untuk melihat mengingat semua pengalaman yang ia alami hari ini.
“Vin, kamu ngapain sih?”
“Gag apa-apa. Ayo jalan lagi!”
Alvin berjalan duluan. Alice bingung. Sebenarnya ia ingin sekali kembali ke dalam dan menghabiskan waktu lebih lama bersama Alvin, tapi ia sudah terlanjur berjanji pada Sharon.
“Alice!” Alvin membangunkan Alice dari lamunannya barusan. Mereka lalu berjalan masuk ke halte Sentosa bus. Tak lama kemudian Bus yang mereka tunggu datang .

Bab 1 - part 1

Pagi itu halte di dekat Sentosa 4D Magix dipenuhi oleh banyak orang. Sebagian besar dari mereka adalah murid SMP Karya Pelita yang sedang sedang berlibur bersama di Singapura dalam rangka perpisahan kelas 9. “Bus-nya datang!” salah seorang murid SMP Karya Pelita berteriak. Alice menarik tasnya dan berjalan ke arah gerombolan anak sekolah yang sedang menaiki Sentosa bus. Ia menyesal tidak meminta izin untuk menemani sahabatnya, Sharon yang sedang sakit di hotel. Seandainya ia bersama Sharon, mungkin ia tak akan sebosan ini. Tak ada satu pun anak yang mau berbicara dengannya. Bahkan walaupun bus itu penuh, murid perempuan yang tidak mendapatkan tempat duduk lebih memilih berdiri dari pada duduk di sampingnya.

***

Saat awal masuk ke SMP Karya Pelita, ia hanya memiliki tiga teman dekat, Sharon, Adelia, dan Felicia. Itu bukanlah hal yang buruk jika di bandingkan dengan apa yang ia alami sekarang. Sekalipun hanya memiliki tiga teman dekat, bukan berarti tidak ada lagi yang mau berteman dengan Alice.  Hampir semua anak-anak seangkatnya berharap menjadi teman dekatnya. Alasanya karena ayah Alice adalah Sergie Alexander, seorang pengusaha sukses yang sering di undang ke acara-acara tv karena kesuksesannya dan ibunya Adita Putri, seorang perancang busana ternama yang sudah memiliki clothing line. Bukan hanya anak seangkatanya, kakak kelasnya pun ingin berteman dengannya. Tapi ini bukan karena orang tuanya, melainkan karena kakak laki-lakinya, Alden. Alden adalah Kapten Basket di SMP Karya Pelita. Bukan hanya pintar bermain basket, Alden juga pintar dalam pelajaran dan tampan. Tidak heran banyak siswi sekolah itu yang tergila-gila padanya. Dan karena itu Alice merasa sangat beruntung awalnya.

Awalnya Alice berpikir semua itu akan terus berlangsung sampai ia lulus, tapi ternyata tidak. Alden lulus tahun itu dan pindah ke SMA lain. Tahun ajaran berikutnya, kakak-kakak kelasnya sudah berhenti mengejar cinta Alden dan secara otomatis Alice kehilangan kakak kelas yang berharap jadi temannya. Pada tahun itu juga, masuk seorang anak pindahan dari Singapura bernama Celena. Celena adalah anak pemilik sebuah perusahaan rekaman yang sudah mengorbitkan penyanyi-penyanyi papan atas Indonesia, juga rekan kerja dari Sergie Alexander. Popularitas Alice pun tergeser.

Tahun itu benar-benar tahun yang menyedihkan untuk Alice. Bukan hanya popularitas, tapi ia juga kehilangan salah satu teman dekatnya, Felicia. Selama ini Felicia hanya berteman dengannya karena popularitas semata. Ia bersyukur Sharon dan Adel tidak seperti itu. Felicia bergabung dengan geng Celena. Celena awalnya tidak berniat untuk memusuhi Alice dan kedua sahabatnya, tapi Felicia-lah yang sengaja memfitnah Alice di depan Celena.
“Cel, bukannya aku gimana ya, tapi aku pernah dengar Alice bilang kamu itu kecentilan, mungkin dia iri kali ya kamu lebh cantik dari dia”
“Beneran? Kayaknya dia gag sejahat itu deh, Fel.”
Awalnya Celena tidak percaya, tapi lama kelamaan ia pun terhasut dan mulai bersikap dingin pada Alice. Berita itu membuat semua murid perempuan menghindari Alice. Semakin lama, semakin banyak berita miring tentang Alice hingga ia hanya berteman dengan Sharon, Adel, dan beberapa siswa laki-laki. Kedekatannya dengan siswa laki-laki pun membuatnya semakin tida disukai siswi–siswi permpuan. Alice merasa serba salah, apapun yang ia lakukan membuatnya semakin tidak di sukai.

***
Alice duduk sendiri di bus itu, beberapa temannya yang sebelumnya tidak mendapatkan tempat duduk, akhirnya mendapatkan tempat duduk. Tidak semua murid ada di bus itu, karena kapasitas bus terbatas. Mereka nantinya akan bertemu di halte di dekat Pantai Siloso. Alice berharap akan ada hal baik yang terjadi padanya hari ini.

***
Alvin mengambil jaket dan dompetnya, ia bersiap untuk keluar dari kamar hotel. Ia sudah muak berada disana.
“Ma, could I get away for a while? Aku bosen banget”
“Kemana, Vin?”
I don’t know yet, I’ll tell you later.
Okey, but come back before night. Papa akan jemput kita nanti malam.”
Alvin berjalan keluar dari hotel dan menunggu bus di halte dekat hotel. Ia termenung mengingat kejadian yang ia alami beberapa waktu lalu.
“Vin, I’ve decided we gonna move to Jakarta next month
“Hah? Bukannya mama bilang kita gag akan ikut papa pindah?”
“Well, sebenarnya Mama juga berat meninggalkan , tapi kasihan papa gag ada yang menemani disana.”
Alvin masih tidak habis pikir, mengapa ibunya begitu mencintai ayahnya yang bahkan tak pernah memperhatikanya. Ia berjanji jika nanti ia berkeluarga, ia takkan menyia-nyiakan istrinya seperti apa yang dilakukan ayahnya. Ia melihat bus yang mendekat dan kemudian masuk ke dalamnya. Ia duduk di samping seorang gadis remaja. Sepertinya gadis itu lebih muda darinya.

***
Alice yang sebelumnya termenung memikirkan bagaimana cara membuat harinya menyenangkan baru menyadari ada seorang laki-laki yang duduk di sampingnya. Laki-laki itu tersenyum ke arahnya dan ia menyodorkan tangannya kearah Alice
“Excuse me, could I sit beside you?”
“Yes.”
“I’m Alvin, who are you?”
“Alice.”
Alice merasa bodoh. Alvin begitu ramah tapi ia hanya menjawab singkat. Ia berharap Alvin akan bertanya lagi agar ia bisa menjawab dengan lebih baik. Ia beruntung, setelah beberapa saat Alvin bertanya lagi.
“Dari Indonesia ya?”
“Iya, kok tau?”
“Dari nama sekolah kamu.”
Alice langsung melihat ke nametag nya, lalu ia balik bertanya lagi pada Alvin.
“Kamu juga dari Indonesia?”
“Nope, I’m from California, but my parents were born in Indonesia. Jadi, aku bisa bicara bahasa Indonesia”
“Tapi kenapa tampang kamu kayak bule?”
“Mamaku blasteran Indonesia-Belanda. Kamu juga blasteran kan?”
“Iya, papaku orang jerman tapi mama-ku orang Indonesia.”
Karena pembicaraan kecil itu, mereka menjadi akrab. Mereka seperti dua orang yang sudah pernah saling mengenal sebelumnya. Mereka terus mengobrol selama perjalanan. Alice merasa begitu nyaman bersama Alvin, begitupun Alvin. Alvin merasa itu adalah kebetulan karena ia dapat menemukan teman baru yang menyenangkan secepat ini. Ia dan Alice berjanji akan bertemu lagi ketika mereka kembali ke Jakarta.
Setelah sampai di Halte dekat Pantai Siloso, Alice mengikuti rombongannya yang sedang bersiap-siap untuk berfoto di sekitar pantai. Alvin mengajak Alice untuk menemaninya berjalan-jalan ke Universal Studio dan Alice setuju. Kebetulan, Ia dan rombongan sekolahnya memang akan berkujung ke Universal Studio setelah befoto di pantai. Tanpa disadari ada seseorang yang sedang memeperhatikan mereka berdua.

***
Revon memandangi Alice dari jauh. Ia begitu cemburu melihat kedekatan Alice dengan laki-laki yang tak dikenalnya itu. Andai ia tadi menemani Alice di bus, Alice takkan bersama dengan laki-laki itu. Revon sadar, ia tak punya hak untuk melarang Alice dekat dengan laki-laki itu. Ia sudah beberapa kali menyatakan cinta pada Alice tapi Alice selalu menolak. Alice lebih memilih bersahabat saja dengannya. Revon berusaha menerimanya. Tapi tanpa Alice ketahui ia selalu melarang siswa lain untuk mendekati Alice. Dan kali ini ia akan melakukan hal yang sama.
“Bob, lu berdua liat cowok yang lagi jalan bareng Alice kan?”
“Iya, kenapa memangnya, bos? Lu cemburu?”
“Jelas lah, lu gag liat? Mereka dekat banget !”
“Terus gimana, bos?”
“Kita kasih dia peringatan kayak biasa, kasih tau Jason juga.”
Bobby langsung mencari Jason untuk memberitahukan rencana Revon. Revon bergabung dengan rombongan yang sedang berjalan ke Stasiun Sentosa Express di pantai itu.



hello !
i liked to share my story to all of you, this is a fiction story that maybe happened to some of you. Please give comment if you like it or if you want to give a critic or suggestion. 

feel enjoy to read it !